Electroconvulsive therapy (ECT) by Lammian Naibaho
Electroconvulsive therapy (ECT)
Terapi elektrokonvulsif (ECT) diperkenalkan untuk mengobati depresi pada tahun 1938. Masih ada stigma yang melekat pada ECT dan meskipun ini adalah pengobatan yang efektif untuk depresi – itu kurang digunakan. Stigma yang melekat didasarkan pada perawatan ECT awal ketika pasien terjaga ketika dosis listrik yang relatif tinggi diberikan. Mereka mengalami rasa sakit dan terkadang patah tulang selama kejang yang diinduksi. Ini tetap menjadi pengobatan yang kontroversial - meskipun sekarang ini adalah pengobatan yang jauh lebih aman yang dilakukan dengan anestesi umum dengan relaksan otot untuk mencegah kejang parah terjadi. Dokter memantau detak jantung, tekanan darah dan pernapasan. Ini aman dan efektif.
Elektroda diposisikan di kepala pasien dan arus listrik melintasi jaringan otak menyebabkan kejang. Pasien berada di bawah anestesi umum dan diberi relaksan otot. Pasien tidak boleh makan atau minum setidaknya selama 6 jam sebelum perawatan, meskipun dapat memiliki cairan bening hingga 2 jam sebelum perawatan. Jika pasien rawat jalan - pasien harus bersama orang dewasa yang bertanggung jawab selama 24 jam setelah perawatan. Anda tidak boleh mengemudi mengikuti prosedur dan tidak boleh memakai perhiasan selama ECT.
Elektroda dapat bersifat unilateral atau bilateral seperti yang terlihat pada diagram di bawah ini.Kejang biasanya berlangsung selama 90 detik.
ECT memiliki onset aksi yang cepat - lebih cepat daripada obat antidepresan. Ini berguna pada pasien bunuh diri, pada pasien yang tidak makan atau minum akibat depresi mereka, pasien yang tidak bergerak atau berbicara (katatonik) dan pada pasien dengan 'psikotik' gejala ('halusinasi' – misalnya, mendengar atau melihat hal-hal yang tidak ada atau 'delusi' – keyakinan yang dipegang teguh yang tidak didukung oleh fakta). Ini juga dapat digunakan untuk pasien yang depresinya belum merespon beberapa perawatan lain. 70-90% depresi pasien merespons ECT ini adalah tingkat yang lebih tinggi daripada pengobatan depresi lainnya saat ini. Tingkat kekambuhan, bagaimanapun, tinggi dengan lebih dari 50% pasien kambuh dalam beberapa bulan setelah kursus, jika pengobatan pemeliharaan dengan ECT atau antidepresan dan/atau terapi tidak dilakukan. Perawatan lanjutan, setelah depresi hilang, dapat dikatakan 4 perawatan yang dipisahkan seminggu dan kemudian terpisah dua minggu. Ini dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan di masa depan - mungkin dengan membawa pasien dari jauh lebih baik menjadi sehat sepenuhnya. ECT pemeliharaan adalah ketika pengobatan terus diberikan setiap 1-4 minggu selama beberapa bulan (mungkin bertahun-tahun untuk beberapa pasien),
Efek samping meliputi: sakit kepala, nyeri otot, merasa sakit, dan gangguan memori. Setelah ECT akut, kemampuan untuk membentuk ingatan baru terganggu. Ini biasanya membaik selama berhari-hari/minggu. 30% pasien memiliki masalah mengingat ingatan masa lalu pra-ECT dan beberapa dari pasien ini dibiarkan dengan celah permanen dalam ingatan mereka.
Tidak pasti bagaimana ECT bekerja. Ini mengubah pola aliran darah di otak. Ini dapat merangsang perkembangan sel-sel otak baru (neuron) dan mendorong perubahan dalam cara sel-sel otak berkomunikasi satu sama lain. ECT membanjiri otak dengan bahan kimia (neurotransmitter) seperti serotonin dan dopamin, yang diketahui terlibat dalam depresi.ECT aman dan efektif, namun membutuhkan anestesi berulang dan pasien sering kambuh dengan cukup cepat. Ini adalah pengobatan yang saat ini kurang digunakan.
Teknik electroconvulsive therapy atau ECT diberikan secara serial. Kebanyakan pasien membutuhkan 6‒12 kali tindakan. Tindakan ECT hanya dilakukan 1 kali sehari dengan jeda 24 jam setiap 2 atau 3 kali tindakan berurutan. Saat ini prosedur ECT dilakukan dengan anestesi untuk mengurangi kesakitan pada pasien.
Persiapan Pasien
Persiapan untuk ECT mencakup persiapan untuk ECT dan tindakan anestesinya. Pasien diminta berpuasa minimal 6 jam sebelum dilakukan tindakan ECT.
Pemeriksaan Pra Anestesi
Pemeriksaan fisik awal bisa dilakukan oleh psikiater. Namun untuk pasien-pasien dengan risiko tinggi, pemeriksaan pra anestesi yang lengkap sebaiknya dilakukan oleh tim anestesi. Pengambilan riwayat medis dan pemeriksaan fisik lengkap harus dilakukan. Penekanan pada pemeriksaan riwayat penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit katup jantung, hipertensi yang tidak terkontrol, penyakit paru obstruktif kronis, refluks gastroesofageal, dan riwayat anestesi sebelumnya. Riwayat lain yang perlu digali adalah riwayat trauma atau operasi kepala, kejang, keluhan neurologis fokal atau general, dan trauma/patologi muskuloskeletal.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap, ureum, kreatinin, dan elektrolit. EKG 12 lead sebaiknya dilakukan, terutama pada pasien berusia 60 tahun ke atas.
Obat-obatan
Obat-obat yang bisa membantu memperbaiki kondisi pasien agar lebih aman ketika dilakukan ECT sebaiknya tetap diberikan, misalnya obat antihipertensi, steroid, anti GERD, antiangina, dan antiaritmia. Namun pemberiannya minimal 3 jam sebelum dilakukan ECT dengan jumlah air untuk membantu menelan minimal. Obat-obat yang meningkatkan risiko bahaya ECT sebaiknya dihindari untuk diberikan selama tindakan ECT, misalnya diuretik seperti Furosemide obat dengan efek hipoglikemia seperti libenclamide, benzodiazepine long acting seperti Diazepam dan clonazepam,lithium karbonat, antikonvulsan, suplemen yang mengandung magnesium, dan inhibitor asetilkolinesterase.
Persiapan Ruangan
Ruangan yang akan digunakan untuk ECT sebaiknya adalah ruangan khusus untuk ECT yang nyaman dan cukup luas untuk mengakomodasi semua personil ECT. Ruangan ECT harus mempunyai akses ke troli emergensi, tabung oksigen, alat suction, telepon, dan lampu emergensi. Ruangan juga memungkinkan bila sewaktu-waktu diperlukan tindakan CPR.
Semua ruangan ECT harus dilengkapi dengan peralatan berikut:
1. Larutan atau gel yang bisa menghantarkan arus listrik
2. Alat monitoring tanda vital dan fungsi kardiovaskular, termasuk pulse oximetry
3. Sumber daya manusia: spesialis anestesi, psikiater yang melakukan prosedur ECT, dan anggota pendukung seperti perawat dan asisten perawat
4. Peralatan anestesi dan resusitasi
Persiapan Peralatan ECT
Alat ECT modern dilengkapi dengan fasilitas:
• Elektroda untuk disposable EEG
• Elektroda untuk menghantarkan stimulus dengan diameter minimal 5 cm untuk mencegah terjadinya luka bakar
• Arus yang konstan, output bi-directional brief pulse square wave
• Alat ECT harus mempunyai memberikan daya listrik sebesar 1000 mC. Pada alat ECT dengan voltase 450 V, ini setara dengan daya sebesar 104 Joules
• Mampu menghantarkan berbagai parameter stimulus, termasuk pulse dengan durasi singkat
• Terhubung dengan monitor EEG dengan setidaknya 2 channel dan printer kertas
• Metode untuk mengukur impedansi sirkuit
• Mekanisme keamanan pada tombol untuk ECT untuk mencegah discharge secara tidak sengaja/kecelakaan
• Perawatan rutin oleh tenaga terlatih untuk peralatan medis
Posisi Pasien
Posisi pasien ketika akan dilakukan ECT adalah berbaring terlentang dengan kepala berada pada sisi alat ECT. Pasien berbaring tanpa bantal dan berpakaian longgar.
Prosedur ECT terdiri dari sebelum tindakan, sewaktu tindakan, dan setelah tindakan.
Sebelum Tindakan
Sebelum tindakan ECT, pasien diminta untuk berpuasa minimal 6 jam untuk mencegah regurgitasi ketika kejang. Setelah pasien berbaring sambungkan alat monitoring seperti cuff sphygmomanometer, lead EKG dan EEG untuk monitoring. Semua aksesoris berbahan logam yang ada pada pasien harus dilepaskan, termasuk gigi palsu. Sebaiknya pasien tidak mendapatkan obat sebelum ECT selain obat yang diperlukan untuk mengurangi risiko ECT (misalnya antihipertensi). Setelah semua siap, maka dilakukan tindakan anestesi umum.
Sewaktu Tindakan
ECT dilakukan dengan menempatkan elektroda bilateral di atas lobus temporalis. Apabila ada kekhawatiran akan terjadi konfusi post-iktal, maka bisa digunakan elektroda unilateral pada hemisfer non-dominan. Namun, penempatan elektroda bilateral lebih efektif dibandingkan penempatan unilateral. Pasca stimulasi, akan timbul kejang tonik klonik dalam 5‒10 detik. Idealnya kejang selama 15‒120 detik. Bila kejang terjadi lebih dari 120 detik, maka harus dilakukan intervensi untuk menghentikan kejang. Selama kejang, harus dilakukan manuver untuk menjaga agar jalan nafas pasien tetap terbuka. Gunakan oropharyngeal airway seperti goedel maupun alat untuk mencegah pasien menggigit pada fase kejang. Dilakukan monitoring tanda vital, EKG selama kejang.
Setelah Tindakan
Setelah tindakan, pindahkan pasien ke ruang pemulihan. Petugas terlatih harus memonitor jalan nafas, denyut nadi, tekanan darah, tanda adanya kejang ardive, saturasi oksigen, serta tingkat kesadaran dan orientasi pasien.
Follow Up
Follow up dilakukan selama 24 jam pasca tindakan untuk melihat adanya efek samping pada pasien. Efek samping yang timbul pada pasien umumnya akan menghilang sendiri dan tidak membutuhkan intervensi. Pasien disarankan untuk mengurangi aktivitas fisik pasca tindakan ECT.
DAFTAR PUSTAKA
• ECT is a highly effective treatment that is currently underused.
• TMS may be an alternative to ECT; but is not currently as effective.
• VNS is not an alternative to acute ECT; but may be an alternative to maintenance ECT and for patients with chronic depression or frequent episodes.
• MST and DBS are not currently treatment options, and more research is needed
• Psychosurgery is an “end-stage” option for Difficult-to-treat Depression.


Good job, semangat...sangat informatif
BalasHapusInspiratif sekali
BalasHapuspenuh dengan informasi yang bermanfaat. mantap.
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusmateri yang sangat baik
BalasHapusArtikelnya bagus sekali
BalasHapusMantabb materinya detail
BalasHapusInfo yang baik good joob
BalasHapusTerima kasih informasinya kak sangat bermanfaat👍🏻
BalasHapusGoooodddd
BalasHapusartikel yang informatif
BalasHapuskeren deh, thanks yaa infonya
BalasHapusTulisan yang bagus, informatif
BalasHapussangat membantu pembelajaran mahasiswa elktromedik, terimakasih
BalasHapusterimakasih infonya
BalasHapusgomawo ilmunya
BalasHapushappy bacanya
BalasHapusSejarahnya bagus 👍
BalasHapusgood information
BalasHapusSemoga bermanfaat
BalasHapusmantap kak
BalasHapusKeren
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapussangat informatif
BalasHapusMudah dipahami sangat membantu
BalasHapusMantap
BalasHapusSangat membantu dan bermanfaat
BalasHapus